Selasa, 18 Februari 2014

Memilih Kementerian Luar Negeri

Sejujurnya, kerja di Kementerian Luar Negeri sebagai Diplomat adalah cita-cita saya semenjak SMA. Kenapa baru semenjak SMA sih kepikiran untuk jadi diplomat? haha. Simak dulu kali ya cerita berikut ini:

Well, saya sempat muda dan tentunya sempat labil. Sebelum mengecap bangku sekolah, saya randomly ingin menjadi peragawati, hihi. Sumpah, itu cita-cita random banget dan ayah saya dengan serius menanggapinya (oh lala, he was so serious). Kemudian sewaktu kelas 1 SD, saya berkeinginan untuk menjadi pramugari. Alasannya sederhana, dalam pikiran saya menjadi pramugari itu menyenangkan karena bisa jalan-jalan ke luar negeri :) Hingga akhirnya saya juga pernah berhasrat besar untuk menjadi dokter. Kala itu, lagi-lagi ayah saya gamang; bukan karena ga sanggup membayangkan anaknya menjadi dokter, tapi khawatir akan kemampuan finansialnya untuk membiayai pendidikan dokter yang terbilang mahal untuk kocek ayah yang hanya seorang polisi biasa. Di bangku SMA, kerumitan pelajaran Biologi membuat saya menyerah untuk melanjutkan kuliah ke kedokteran. hasyaaaaah!!!! perencanaan cita-cita saya pada dasarnya tidak pernah stabil.

Masih di bangku SMA, saya berkesempatan untuk mendapatkan beasiswa penuh dari Pemerintah USA dalam Program Youth Exchange and Study. Takdir juga yang mengantarkan saya untuk stay di Negara Bagian Indiana selama 1 tahun. Di kota kecil bernama North Vernon, saya menjadi satu-satunya WNI dan Muslim di pelosok itu, lol. Menjadi representatif dari Indonesia, menceritakan keragaman agama dan budaya kita, presentasi ke sana ke mari, keluar masuk gereja, mengunjungi Masjid yang jauhnya 20 mil dari rumah orang tua angkat, turut merasakan Natal bersalju, melukis telur paskah, dan bahkan hingga dituding teroris. Cerita di Indiana merupakan kompleksitas tersendiri. Tentunya, pengalaman 1 tahun ini pula yang telah berhasil menoreh harapan saya untuk menjadi diplomat atau perwakilan Indonesia di masa depan. Harapan saya besar untuk mampu merefleksikan wajah bangsa ini di negara-negara lainnya; agar bangsa ini dikenal dari wajahnya yang positif dan dinamis, supaya kita diketahui karena kebesaran dan keragaman kita. amin!

Sepulangnya dari US, saya sudah bertekad bulat untuk melanjutkan kuliah di jurusan Ilmu Hubungan Internasional UI. Ternyata oh ternyata, fakta menunjukkan bahwa 85% mahasiswa HI UI di tahun pertama murni masuk jurusan ini karena ingin jadi diplomat. Di tahun ke empat, angka ini merosot tajam bahkan hingga mencapai 5%. Pertanyaannya, apakah saya yang termasuk ke dalam 5% ini atau justru sebaliknya berada di golongan 95%?

Begini, di HI UI, pada tahun ketiga kuliah (semester 5) kita dibagi ke dalam tiga peminatan yang disebut dengan sistem peng-cluster-an. Adapun tiga cluster ini adalah: Pengkajian Strategis yang disingkat menjadi Pengstrat (Keamanan), Ekonomi Politik Internasional yang disingkat sebagai Ekopolin, dan Masyarakat Transnasional disingkat Mastrans (Isu non kenegaraan). Memilih ketiga opsi ini tidaklah begitu sulit jika kita telah memiliki preferensi yang khas di semester-semester sebelumnya. Kebanyakan yang memilih Pengstrat adalah para kaum freak yang menyukai persenjataan, perang, dan kajian-kajian aliran keras lainnya (haha, kiddding). Sementara itu, Ekopolin diisi oleh anak-anak pragmatis yang berharap setelah kelulusan di HI nantinya, dunia kerja industri nan penuh tuntutan pemahaman dinamika ekonomi akan bersedia menerima mereka (subjektif! ini pendapat saya saja). Cluster Mastrans diisi oleh kalangan jiwa-jiwa aktivis, yang mengkritisi kebijakan pemerintah, dan lulusannya kebanyakan kerja di Pusat Kajian atau NGO.

Coba tebak saya pilih cluster yang mana? well, saya pilih Ekopolin. Alasan awalnya ya alasan pragmatis, tapi pada dasarnya saya juga memang suka mempelajari Perdagangan Internasional. Makanya setelah lulus kuliah di Bulan Februari 2013 lalu, saya bekerja di Kemenko Perekonomian di bawah Kedeputian V dan setelah 6 bulan di sana, saya kemudian pindah ke Asuransi Ekspor Indonesia (ASEI) yang juga masih terkait dengan perdagangan internasional. Iseng-iseng nyoba seleksi CPNS pada tahun itu, saya memilih mendaftar di dua kementerian. Pilihan pertama tentunya adalah Kementerian Perdagangan (yeah, memang ini menjadi opsi utama, lagi-lagi karena berkaitan dengan perdagangan internasional). Pilihan kedua adalah Kementerian Luar Negeri.

Mengapa saya menjadikan Kemlu menjadi opsi kedua? Alasannya fundamental, saya ga yakin kalau saya akan lulus tes CPNS Kemlu tahun 2013. Saya tahu bahwa seleksinya berlapis-lapis dan susah. Idealisme saya untuk mendalami perdagangan internasional juga kebetulan masih menggebu-gebu. Jadilah akhirnya saya mengikuti serangkaian tes di kedua Kementerian ini di tengah-tengah kesibukan pekerjaan baru di ASEI. Seringkali saya izin di hari-hari kerja untuk seleksi yang coba-coba ini. Namun, Allah SWT memudahkan jalan saya hingga mampu mencapai seleksi final di kedua Kementerian ini. Keraguan saat itu juga menggelayuti hati nan rapuh ini, eeeeaaaaa. Kemlu atau Kemdag? Kemlu atau Kemdag? Udah kayak ngitung kancing baju aja :D

Mungkin Allah membukakan hati saya di seleksi akhir ini. Saya memilih Kemlu secara mantap setelah melihat proses seleksi Kemlu yang saya rasa lebih profesional, terutama pada saat wawancara panel bersama 3 orang Duta Besar nan berwibawa, tenang dan teduh (someday I wanna be like them). Jujur ya, bukan bermaksud menjelekkan Kemdag, tapi secara personal saya tidak sreg dengan metode wawancara final Kemdag yang hanya berhadapan dengan 1 interviewer dan 1 notulis. Ditambah lagi, interviewer di sana kurang mampu membuat saya tertarik dan respek terhadap pertanyaannya. Salah satu pertanyaan beliau yang saya respon dengan cadas dan mungkin ini juga yang  menjadikan saya tidak lulus adalah seperti ini:

Ibu tsb: Kamu yakin mau daftar di sini? gajinya kecil loh, masa sih mau nyoba di sini? yakin? (dengan wajah meremehkan)

Saya: Kalau ga yakin, saya ga akan daftar Bu (dengan wajah datar dan tidak takut)

setelah itu...terjadilah moment of silent. Saat itu juga, saya sudah tidak peduli lagi dengan nasib kelulusan di Kemdag. Perasaan untuk bekerja di Kemlu semakin kuat, cita-cita mulia saya untuk menjadi Duta Besar masa depan negara ini semakin kokoh. Tiap malam saya berdoa dan minta doa dari ortu serta kerabat.

Hingga, pada tanggal 31 Desember 2013, pengumuman mengharukan itu keluar. SAYA DINYATAKAN LULUS DI KEMENTERIAN LUAR NEGERI REPUBLIK INDONESIA. Tidak ada yang lebih membahagiakan dari menerima kabar gembira ini di penghujung tahun 2013, Insya Allah 2014 saya akan diwarnai hari-hari baru yang penuh petualangan di Pusat Pendidikan Kementerian Luar Negeri, amin Ya Rabb!!!




Asrama Raflesia II,
Pusdiklat Kemlu
18 Februari 2014