Minggu, 07 Oktober 2012

Cromarty Fisherfolk

Suatu hari seorang sahabat bertanya pada saya.
Saat itu saya tak bisa menebak ekspresinya; lugu kah? curiga kah? jungkir balik kah? heh? what so ever

"bagaimana rasanya kehilangan?"
jleb.
terlalu luas untuk menatap angle pertanyaannya. saya sendiri yang sedang dibalut galau durjana Depok juga makin puyeng menghadapi pertanyaan ini. hasyah!

saya jawab dengan wajah datar dan hati berdetak kencang, yang kurang lebih seperti ini:
"kehilangan itu seperti ada yang mengambil bagian hati kita, ada lubang hampa, tak berbekas"

iiiih, rasanya seram juga jadi sok filosofis gini. tapi sungguh, kehilangan itu singkat!
aku pernah merengkuh hangatmu, tiba2 udara menerjang dingin
tentang lagu yang selalu kita dendangkan, namun memori terenggut lupa
tentang cinta yang kita semai, kemudian kemarau merajah tanah
untuk hujan yang tak henti diharap, pikun saraf merapal doa

itu semua kehilangan. terkesiap, dan tiba-tiba.

untuk yang pergi..setidaknya ia beruntung.
meninggalkan duka, namun manifestasi cinta.
ia beruntung karena dirindukan
ia wajib berlantun sayang karena ia berharga
ia harus melafaz butir jiwa karena ia begitu disayang

untuk Cromarty Fisherfolk, mungkin saya tak punya relasi apa-apa dengan aksen terakhir di daerah terpencil Skotlandia ini..setidaknya saya terenyuh sedih ketika tahu lelaki terakhir yang menguasainya pergi meninggalkan dunia.
Ia membawa segudang pusaka yang tak diteruskan.
menyimpan misteri aksen dan lekuk lidah tak tersalurkan.
mungkin, saya sedih.
setidaknya menutur ini dalam memori.
untuk bahasa, yang akan selalu terpendam hingga akhir masa.